Ada masanya, skripsi ini membuatku naik turun mulai dari
jatuh terpuruk, bangkit, terpuruk sampai merasa berada di titik terendah hingga
mencoba bangkit pelan-pelan lagi.
Begitu terus hingga lelah. Rasanya hidup berputar dan jatuh
bangun untuk mengerjakan skripsi ini.
Ada masanya hati ini membutuhkan pekan teduh alias masa-masa
tenang sebelum badai. Yah, bisa dibilang masa penyangkalan kali ya, masa denial. Waktu dimana mencoba mengulur
sebaik mungkin skripsi ini dan menjanjikan akan mengerjakannya setelah puas
menikmati masa tenang. Tapi sebenarnya apa batasan masa tenang itu? Sekalipun berada
dalam masa tenang hati juga tidak merasa tenang, karena tau bahwa kita tau ada
PR nih, ada sesuatu yang belum dikerjakan dan menuntut untuk diselesaikan tapi
tak juga mau bergerak untuk menyelesaikannya. Setelah melewati tahapan demi
tahapan terus saja mengulur untuk mengerjakannya.
Sebenarnya kenapa sih kok terus “berlari dari kenyataan”?
orang mengatakan bahwa ketika kita merasa seperti itu kita mulai merasa
tertekan.
Coba kulihat, apakah aku merasa tertekan?
Hm, aku juga tidak tau pasti, tapi yang jelas serentetan
kisah buat penelitian di lab seharian selama 2 bulan ini, mulai dari pagi
hingga magrib, mulai makan pagi dilab, makan siang hingga sholat semua di lab, membuatku
merasa lelah luar biasa. Merasa begitu capek sampai pernah terduduk di jalan
dan menangis sambil menertawakan kenapa aku menangis. Pernah juga masa dimana
ketika ditanya bagaimana perasaannya, aku mulai menangis sesenggukan sambil
berusaha menguatkan diri untuk tidak menangis dan sekali lagi menertawakan
tangisanku. Hingga teman-temanku mencoba menguatkanku dan menawarkan bantuannya
padaku tapi aku merasa begitu remeh sambil terus menyangkal. Kadang ketika lelah
penelitian seharian aku merasa begitu terpuruk, lemah dan kecil sampai aku
harus menguatkan diriku dan mengatakan berkali-kali bahwa aku memiliki Allah. Aku
bersama Allah yang pasti membantuku. Entah apa yang membuatku merasa sedemikian
“tertekan” itu ketika mengerjakan skripsi ini.
Ketika di lab aku harus mengalami kegagalan demi kegagalan
yang membuatku putus asa dan menguatkan diri untuk bangkit dan mencoba lagi,
hasil yang tidak sesuai atau segala sesuatu yang benar-benar menjungkir
balikkan perasaan. Sepele memang jika dipikir-pikir lagi, tapi ketika dilakukan
dan dirasakan tidak sebercanda itu. Entah apa yang membuatku merasa begitu
berat. Takut mengecewakan? Takut gagal? Takut dimarahi dan diserang? Hm entahlah.
Yang jelas semua hal itu mulanya membuat banyak ketakutan dalam hatiku sehingga
aku merasa begitu kecil, lemah dan rapuh sekali. Aku merasa berada dititik
terendah dalam hidupku setelah 9 tahun yang lalu.
Saat ini penelitianku mulai usai dilab. Hanya tertinggal 1
atau 2 pengujian lagi yang insyaalah tidak seberat yang lalu. Aku mulai menata
otak, menata hati dan fikiran untuk berfikir jernih kembali. Menguatkan mental
yang sudah kepingan-kepingan kekuatan ini. Pernah suatu ketika aku mencoba
untuk mendoktrin otakku dengan menonton video semacam sharing pengalaman menghadapi titik terendah selama berhari-hari
hanya untuk mengingatkanku agar tidak menjadi bodoh dan lemah. Saat ini aku
sedang berusaha, benar-benar berusaha untuk mencoba meracuni otakku kembali
dengan fikiran-fikiran yang baik. Tidak memberi ruang pada kelemahan meski
sejatinya manusia lemah, tapi biarlah aku lemah hanya dihadapan Allah, tidak
untuk perkara dunia. Meski tertatih-tatih. Meski benar-benar aku harus
membopong hatiku yang ringkih.
Kali ini aku mulai memasuki fase pengolahan data. Ya, mulai
masa denial lagi. Mulai menyangkal
lagi untuk membuat bab selanjutnya. Ah, memang semua fase itu harus dilewati
meski aku harus menyeret kakiku selangkan demi selangkah. Seretan demi seretan
yang membuatnya tergores sana sini. Hm. Tak apalah, dijalani saja entah
bagaimana akhirnya. Semangat buat kamu juga yang skripsi. Selalu ada hikmah
dibalik setiap skripsi ini. Semangat kawanku. Semangat kamu.
Ponorogo, 31 maret 2019
RU, 21th

Komentar
Posting Komentar
silahkan memberi kritik dan saran yang membangurn