Masalah Cinta




05.05.2018
Cinta. Ah sepertinya aku terlalu sering mengungkapkannya. Apa itu cinta? Lagi-lagi ku bertanya. Aku berpikir sepertinya aku telah menjawabnya, namun jawaban itu memudar di otakku. Ah. Rasa yang berdesir, perasaan hangat yang tidak enak ketika di rasakan tetapi dirindukan ketika tak dirasakan. Jadi masalahnya dimana?

Masalahnya adalah waktu. Kapan waktu itu disebut tepat? Ketika tak ada keraguan di dalamnya. Ketika tak memberatkan, ketika tenang hati merasainya. Namun kita sering terjerat pada saat menunggu. Menunggu datangnya sebuah waktu yang tepat. Membunuhi waktu di setiap detiknya. Menghabiskan sisa-sisa penantian dengan hati yang ridha. Perkara ini sungguh sulit, menata hati satu demi satu dan meracuninya dengan nasehat-nasehat yang baik. Ah, bukankah dengan segala rasa sakit ini kita menjadi syukur? Bukankah dengan setiap darah yang mengalir kita bertasbih meminta penguatan sehingga ketika luka itu telah menutup sempurna kita tak henti-hentinya bersyukur pada Yang Mencipta.

Jadi apa yang kau sebut cinta? Apa definisi cinta menurutmu?

Belum lagi masalah rindu. Rindu yang memburu, membuat makan tak enak dan debaran setiap waktu. Begitu kelu, sembilu. Kenangan demi kenangan. Imajinasi yang mencoba memperagakan ulang sebuah kejadian dan menambahinya dengan bumbu-bumbu yang disukai hati meski tidak benar-benar terjadi. Alangkah rumitnya sebuah perasaan ini.

Ketika aku menulisnya aku tidak sedang jatuh cinta pada manusia ataupun makhluk Tuhan lainnya. Sungguh tidak. Aku mencintai cinta itu sendiri. Aku mencintai setiap cinta dari keseluruhan yang melingkupiku. Aku mencintai Yang Menciptakan cinta. Ini masalah cinta, bukankah sudah kubilang dari awal bahwa ini cinta?

Kita semua fana, Dia yang abadi. Aku tidak mencintai kehancuran, aku mencintai kekelanNya. Agar cintaku ini juga kekal. Agar sampai rindu dan seluruh nafasku ini kepadaNya. Karena jika meminjam kata Sapardi, yang fana adalah waktu, kita abadi. Menghitung detik demi detik, merangkainya menjadi bunga, hingga suatu hari kita lupa untuk apa. Namun katamu kita abadi bukan?


Surabaya, 5 Mei 2018
Rizka Ulfiana, 21 th
Setengah Manusia

Komentar