Menjalin Relasi


Yudisium berjalan lancar. hanya saja dengan kesadaran penuh aku tau bahwa itulah saat berpisah. Itulah akhir dari kehidupan mahasiswaku di surabaya, karena dengan itu aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Kembali ke ponorogo sampai wisuda. Saat-saat perpisahan dengan teman-teman, yang mungkin tidak bisa setiap hari bertemu, seminggu sekali atau bahkan dua minggu. Kini hitungannya adalah bulan bahkan tahun, bukan lagi hari. Mereka yang selama ini membantuku berkembang dewasa, entah mereka sadar atau tidak, sengaja atau tidak.


Saat-saat yang aku kira tidak bisa diulangi lagi, karena benar saja apa yang pernah kubaca bahwa aku mungkin lebih menyesali apa yang tidak kulakukan daripada apa yang aku lakukan –dalam konteks hal baik tentunya-. Mengapa aku tidak ikut lebih banyak lagi organisasi, mengapa tidak menambah pengalaman kerja, dan mengapa aku tidak lebih jauh lagi membangun relasi karena semuanya itu ternyata sangat penting saat aku baru menyadarinya saat-saat terakhirku disana. Aku berkata pada diriku sendiri bahwa jangan sampai aku menghilang lagi dari teman-temanku, karena aku telah menghilang dari teman-teman SD, SMP dan SMA ku. Aku sadar bahwa networking itu sangat penting karena dibutuhkan dalam hal apapun dan membantu banyak.

Saat aku berada pada hari-hari terakhirku, aku banyak belajar bahwa ternyata kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi di depan. Orang-orang yang mungkin dulu kita remehkan ternyata orang itu justru menjadi sebab kesuksesan kita. Melalui jalan orang itu atau katakanlah dari bantuan orang itu kita bisa menyelesaikan sesuatu, maka dari itu jangan pernah merendahkan atau meremehkan orang lain apalagi sampai menyakitinya. Kita hanya tidak pernah tau takdir apa yang sedang menanti kita. Sekilas tentang itu aku banyak menemui orang-orang yang dulu terlibat project denganku dan tidak terlalu menganggapku, tapi saat-saat terakhir justru orang itu membutuhkan bantuanku. Aku hanya berfikir bagaimana jika aku dalam posisi mereka ya, jika aku menyakiti atau tidak menganggap penting orang lain dan suatu saat ternyata ada pekerjaan yang ternyata aku membutuhkan bantuan orang itu. Hm, hidup itu memang sungguh tak terduga, maka jangan mencoba-coba untuk melewati batasan dalam hidup. Ada yang pernah berkata bahwa saat engkau mengganggu orang lain, maka sebenarnya engkau juga sedang mengganggu keseimbangan dalam dirimu.

Terlepas dari itu apa yang islam ajarkan untuk membangun ukhwah itu sangat baik. Membangun relasi dan koneksi. Hidup itu ternyata tidak lepas dari unsur politis. Dulu aku sangat membenci hal-hal seperti ini karena aku seorang introvert yang tak bisa bersosialisasi dan berfikir bahwa hal-hal semacam ini begitu curang karena aku berfikir semua orang tidak tulus melakukannya dan selalu ada kepentingan. Well, tidak salah sepenuhnya tapi ternyata tidak seluruhnya benar. Ada orang-orang yang memang kita bangun relasinya bukan untuk “dimanfaatkan” kekayaan atau unsur-unsur materi yang melekat padanya, melainkan persahabatan dengan orang-orang yang memiliki tujuan yang sama itu menyenangkan. Perkara mereka memiliki unsur “materi” dan ternyata mereka dengan ikhlas “membantu” kita ya itu bonus, tapi ukhwah itu harus tetap terjaga tanpa ada campur tangan kepentingan yang bukan Haq nya. Itu sebabnya mengapa harus berteman dengan banyak kalangan dan berbeda latar belakang, karena dari mereka aku belajar banyak tentang hidup. Aku belajar banyak dalam mengenal Tuhanku. Saat kita berteman dengan banyak orang dan tentu ada seleksi alam. Mereka yang tetap bertahan kepada kita, maka itulah orang-orang yang Allah izinkan untuk kita ambil pelajaran.

Hm cukup pelik juga berbicara soal relasi, intinya tetap jalin ukhwah dimanapun kita berada, karena ternyata menyenangkan memiliki banyak teman yang membantu kita. Tentu kita juga harus membantu, karena saat kita memilih untuk berteman, kita tidak akan merasa kerepotan untuk memudahkan jalan mereka. Dimanapun kita berada, saat kita menolong hambaNya, maka insyaallah Allah juga akan menolong kita. Baiklah temena-temanku,mari berteman meski seluruh jarak memisahkan. Semoga Allah mendekatkan yang jauh dan menghangatkan hati kita dengan cinta ukhwah yang diridhoiNya.


Ponorogo, 5 Agustus 2019
Rizka Ulfiana, 22th

Komentar