Manusia mengejar ini dan itu, untuk orang-orang yang
orientasi nya “dunia” sebenarnya kalau di telisik lebih jauh lagi bukan materi
yang menjadi tujuannya. Materi itu hanya alat yang dikejar, sebenarnya
tujuannya itu satu, yaitu mendapat penilaian dari orang lain. Aku juga baru
memahami mengapa kok banyak orang yang “ngoyo” banget ingin dapat materi entah
itu kekayaan, jabatan, kecantikan, kegantengan, kebesaran dan lain sebagainya
itu untuk mencari “perhatian” dari orang lain dan “di-hargai” oleh orang lain. Hm,
mungkin itu memang sifat dasar manusia kali ya, naluri yang manusia miliki
hanya untuk diakui. Itu sebabnya banyak orang yang mencoba melakukan banyak
usaha agar mendapat predikat “diakui” tersebut.
Sebenarnya untuk orang yang zuhud atau orang yang mengejar
akhirat itu juga menggunakan naluri yang sama, yaitu ingin diakui, tapi
targetnya bukan lagi manusia melainkan Tuhan yang dia sayangi. Targetnya adalah
diakui oleh Allah. Ia ingin hanya Allah yang melihatnya. Manusia-manusia
seperti ini sudah tidak peduli lagi dengan penilaian manusia kepadanya karena
ia tau penilaian yang dilakukan oleh manusia itu tak lagi penting karena yang
terpenting adalah Allah tau bagaimana niatnya, apa yang telah ia lakukan dan
apa yang tersirat dalam hatinya.
Orang-orang berlomba-lomba untuk menggapai sesuatu, berlomba
untuk menjadi “ahli” entah dengan apapun niat dan visinya. Tapi sebenarnya
siapa yang paling ahli itu? yaitu orang-orang yang jauh berfikir kedepan,
orang-orang yang memiliki visi akhirat. Orang yang melakukan segala sesuatu
untuk mendapatkan sesuatu diakhirat. Itulah orang yang ahli.
Jika dipikir-pikir lagi, orang yang mengejar keduniaan,
mengejar penilaian manusia itu akan menemui titik lelah juga karena manusia itu
banyak dan fikiran antara satu orang dengan lainnya itu tidak sama, itupun
sering berubah-ubah. Maka dari itu jika hanya menuruti apa kata manusia itu
akan lelah sendiri. Pada akhirnya hati akan merasa hampa dan kosong luar biasa
ketika merasa telah memiliki segalanya. Ada masanya hati akan merasa haus, haus
dengan apa yang belum dicapai meski semua hal telah dimiliki. Hati akan
dibutakan oleh pencapaian-pencapaian lain yang sebenarnya tidak jelas tujuan
dan juntrungannya itu apa. Untuk apa sih? Mereka mengatakan untuk kepuasan
hati. Tapi hati yang berlubang itu tidak akan pernah merasa puas. Tidak sama
sekali karena tiap kali diisi ia akan bocor dan terus merasa kurang.
Berbeda dengan hati yang merasa cukup dengan apa yang
dimiliki. Mengejar sesuatu karena ia ingin dilihat oleh Allah. Ia begitu ingin
Allah melihatnya sehingga apapun yang ia lakukan adalah untuk Allah. Perasaan
seperti itulah yang akan membuatnya menolong orang lain atau bermanfaat bagi
kehidupan orang lain karena setiap ia melakukan sesuatu misalnya dengan
membantu orang lain ia akan berfikir ketika aku membantu hamba Allah, mungkin
Allah akan senang padaku. Ketika aku melakukan sesuatu yang lain mungkin Allah
akan melihatku. Fikirannya dipenuhi dengan ghirah
ingin melakukan sesuatu agar Allah melihatnya sehingga ia akan terus diliputi
oleh kebaikan demi kebaikan. Orang-orang seperti inilah orang yang menjadi
ruang bagi segala sesuatu. Semua kasih sayang ia tampung, dan ia buang, ia
hapus keegoisannya atau kepentingan “dirinya sendiri” hanya untuk menjadi baik
di mata Allah.
Sesungguhnya orang tidak akan melihat seberapa baik kamu, seberapa kaya kamu, seberapa cantik atau besar kamu, tapi orang akan melihat seberapa bermanfaat kamu bagi kehidupannya.- Dr. Gamal
Ponorogo, 30 Maret 2019
RU, 21th

Komentar
Posting Komentar
silahkan memberi kritik dan saran yang membangurn