Hm masalah hati ya, kadang kita merasakan ada gejolak rindu
di dalam dada. By the way rindu itu
gak hanya soal cinta sepasang muda-mudi dan lain sebagainya, ini sifatnya
universal ya guys. Balik ke topik,
ada kalanya kita, atau aku ini merasa rindu. Ada suatu titik dimana aku rindu
untuk merasakan perasaan tertentu. Bertemu dengan teman misalnya atau rindu
ketika masih merasakan sekolah di SMA negeri yang kegiatannya ya begitu-begitu
aja sebenarnya. Monoton lah istilahnya tapi selingan momennya itu banyak juga
ternyata. Misal ke kantin, membuat waktu luang dengan bercerita atau ya
sebutlah gosip, atau sekedar bercanda-bercanda ala anak SMA, ya begitulah
pokoknya yang intinya itu karena kita terjebak pada sebuah urusan atau
kepentingan -yang dalam hal ini sekolah- maka kita mau gak mau berinteraksi
dengan manusia lainnya yang akan ditemui setiap hari selama masa SMA tersebut
dan melakukan hal-hal konyol untuk membuat perasaan bahagia.
Ada lagi rindu rasanya les kesana-kesini. Dari rumah guru
sampai les di bimbel, bertemu teman
kayak memiliki urusan yang sama-sama diusahakan. Semua hal itu sekarang
seperti kertas yang dibakar api menjadi abu kemudian ditiup angin. Kayak gitu
analoginya. Cepet banget berlalu. Saat ini kalau bicara soal teman, ya kayak
keseleksi gitu. Hukum alam. Semakin tua, lingkaran pertemanan semakin kecil. Sekarang
ini hanya teman-teman yang berusaha untuk tetap diusahakan. Diusahakan untuk
bertemu dan saling berbagi cerita meskipun mungkin topik bahasannya sama sekali
berbeda, namun yang membuat tetap bertahan adalah kemauan untuk mendengar dan
keinginan untuk tau apa saja yang coba mereka ceritakan.
Pada akhirnya mereka yang bertahan adalah mereka yang
memiliki kepentingan atau urusan yang urusan itu sekecil karena ingin tetap
berteman misalnya atau membutuhkan orang ini untuk dijadikan teman. Pahamkan maksudku?
Dia nggak memiliki profit materi apapun melainkan profit berupa hati yang
senang karena memiliki teman untuk mendengar dan berbicara yang kelebihan dan
kekurangannya dapat diterima dan match
dengan kita. That’s it. Pada mereka
yang mungkin begitu akrab dan kini tidak, bahkan nggak pernah ketemu sekalipun
setelah perpisahan, mungkin itu orang-orang yang merasa tak saling memiliki
kepentingan lagi. Kontraknya sudah habis. Juga orang-orang yang telah memiliki
dunia masing-masing. Jika tidak pernah bertemu atau berkomunikasi sedikitpun
artinya mereka-mereka ini bukanlah orang yang coba untuk diusahakan agar tetap
berada di lingkaran pertemanan orang itu. Mereka hanya tidak berada dalam
rencana bagaimana orang itu menjalani hidup sekalipun dulu begitu dekat. Atau sesimpel
jalan kita nggak bersimpangan.
You know, that people
changes easily and we start to not talking anything even with bestfriend in
that day.
Perkara seperti itu sebenarnya sudah sangat umum bagi
seseorang. Hidup hanya masalah pertemuan dan perpisahan. Mungkin orang-orang
mulai menebalkan hatinya untuk menghadapi fase tersebut karena seseorang akan
datang dan pergi kemudian digantikan dengan yang lain yang tak 100% sama namun
memiliki kemiripan fungsinya. Saat ini sudah berapa banyak orang yang kau
temui? Salah, seberapa banyak orang yang aku temui? Dari sekian banyak itu ada
berapa orang yang menetap hingga saat ini? Orang yang coba untuk aku
pertahankan dalam lingkaran pertemananku. Mungkin bisa dihitung dengan jari.
Apakah itu sesuatu yang salah? Tentu tidak, kalaupun waktu
diulang mungkin aku juga akan berbuat yang sama, karena manusia memang selalu
membuat keputusan yang sebenarnya tidak berbeda jauh dengan yang pertama.
Hanya saja mulai saat ini cobalah untuk menggenggam mereka
yang ingin digenggam dan mempertahankan dan mengusahakan untuk mereka yang
ingin diusahakan dengan catatan bahwa engkau tau bahwa dalam menggenggam nya
tidak terlalu erat dan tidak terlalu renggang. Memegang terlalu erat akan
menyakiti keduanya dan memegang renggang akan mudah terlepas.
Ada yang bilang teman adalah kekuatan. Benar juga, karena
pada akhirnya kita membutuhkan mereka yang selalu mendukung kita dalam melakukan
sesuatu. Se –introvert apapun seseorang misalnya atau se individu apapun
seseorang mereka tetap membutuhkan teman. Mereka tetap membutuhkan pelukan
hangat meski tak bisa sepenuhnya menceritakan keluh kesah. Hanya saja, teman
bicara itu bagiku seperti sebuah kebutuhan karena banyaknya fikiran yang
bercokol di kepala. Mungkin jika selama ini engkau merasa hatimu dingin, dapat
disebabkan karena engkau tidak mau mencoba membuka hatimu sedikit demi sedikit.
Jika kau tidak bisa menemukan teman yang baik, maka jadilah kau teman yang baik
itu.
Ponorogo, 19 April 2019
Rizka Ulfiana, 21th

Komentar
Posting Komentar
silahkan memberi kritik dan saran yang membangurn