Kehidupan yang Baru




Hingar bingar perkuliahan, pesta kelulusan kloter pertama telah berakhir. Teman-teman pejuang gelar ini juga beberapa telah mengikuti kloter pertama. Aku belum, kloter kedua insyaallah. Mereka yang lulus ini sudah barang tentu tidak se intens dulu ke kampus. Ada yang kembali ke kampung halamannya dan entah apakah balik ke surabaya lagi atau tidak, sepertinya semua cerita sudah tutup buku, untuk kemudian membuka buku yang baru, babak baru, bab yang sama sekali baru di dalam hidup. 

Perpisahan itu pasti karena semua hal diciptakan berpasangan jadi jika ada pertemuan pastilah akan ada perpisahan. Hanya soal waktu. Hidup terus berjalan untuk memasuki fase-fase yang lain. Pilihan juga semakin banyak dan bercabang. Semua yang harus dijalani akan tetap dijalani, tidak peduli siap atau tidak.
Berpisah, karena arah dan tujuan tak lagi sama, karena telah mencapai titik akhir tujuan untuk berhenti sejenak dan menentukan tujuan baru. Jikalau bertemu kembali, mungkin tidak akan sama lagi seperti dulu. Kita, telah memiliki kepentingan yang baru, ghirah yang baru dan tujuan yang lebih spesifik yang mungkin akan berbeda dari hari ini. Masa-masa inilah yang mungkin akan terkenang, tentang mahasiswa baru yang menjalani perkuliahan dan mencoba segala kegiatan yang sepositif mungkin, seproduktif mungkin. Saat ini, langkah-langkah ini akan membawa kita untuk menjelajahi bumi dengan berbagai kepentingan, berbagai kebenaran, untuk sampai pada hati yang tidak selalu terpuaskan.

Saat ini, aku yang tinggal selangkah lagi juga mulai berfikir apa yang bisa kulakukan kelak, agar tidak terjebak pada rutinitas yang tidak bernyawa di dalamnya. Aku mulai merasa kehilangan, meski aku paham benar bahwa hidup memang seperti ini. Mulai menyiapkan diri untuk tak lagi di surabaya dan menguatkan diri untuk “mengabdi”, membayar hutang atas segala kebaikan yang meliputiku. 

Mari kita terbang setinggi-tingginya. Mencoba segala jenis kebaikan dengan semua resikonya. Melangkah selangkah demi langkah untuk sampai pada tujuan entah dimana tujuannya. Setiap orang punya ritmenya masing-masing, ladang amal masing-masing dan semua berhak untuk berjalan diatas kebaikan menurut versinya masing-masing. Memilih pilihan terbaik yang mampu untuk dijalani dan tidak memaksakan diri untuk menjalani kehidupan yang tidak bernyawa di dalamnya. Bersemangatlah, kawanku. Setiap pilihan pasti ada jalan untuk sampai ke tujuan. Sampai pada titik tanpa penyesalan. Selamat memasuki kehidupan yang sama sekali baru. 

Ponorogo, 29 Mei 2019
Salam hangat,
Rizka Ulfiana, 22 tahun.
Mahasiswa

Komentar