Bentukan Masa Lalu



Aku berfikir bahwa banyak dari bagian diriku yang aku tak ingin kembali ke masa lalu. Maksudku, harus mengulangi apa-apa yang aku jalani dulu. Menjadi rizka yang pemalu, pendiam dan penakut. Dulu, aku merasa begitu terbebani dengan title, steorotipe, dan latar belakang sehingga aku merasa aku harus begitu berhati-hati sehingga aku memilih untuk tenggelam. Hal itu membuatku menjadi anak yang pemarah dan pendendam, yang begitu bangga akan dendamnya. Aku begitu bermasalah, setidaknya aku merasa begitu, meskipun aku terlihat seperti anak “biasa” pada umumnya.

Aku tambah begitu bermasalah ketika aku baru masuk kuliah. Bermasalah ini maksudku adalah kondisi psikologisku, bukan aku membuat masalah seperti kenakalan remaja, tapi emosional dan kepribadianku yang semakin tak bisa aku kendalikan dan menggangu orang lain. Begitu banyak kebencian, nyinyiran dan suudzon. Aku baru menyadari disini bahwa aku sedang bermasalah, sehingga aku mulai mencari-cari tau tentang diriku. Aku mulai mencari akar dari semua hal yang aku rasakan dan menemukan jawaban, bahwa ini bukan masalah “dari lahir, sudah begini” tapi semua itu bisa di posisikan, di atur tempat dan waktunya sehingga semua potensi itu tidak dimatikan, hanya disalurkan pada waktu dan keadaan yang tepat. Saat itu aku sadar bahwa semua orang berpotensi bermasalah, dan mencoba mengenali dirinya dan menemukan potensinya adalah cara mengobati “kepribadiannya” -masalahnya- , meskipun tak ada yang benar-benar berubah dan masih ada banyak hal, kebiasaan, yang masih tertinggal dari masa lalu, tapi setidaknya diri tau mana yang benar-benar baik dan buruk. Melebihi semua itu, dalam pencarianku itu aku justru menemukan hakikat yang lebih jauh, yang lebih besar, yakni aku menemukan Tuhanku, dan jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Jatuh cinta tak pernah senikmat ini.

Kembali tentang masa lalu, aku mulai berfikir, jika Allah nggak menempatkan aku pada kondisi saat itu mungkin hari ini aku tidak menjadi seperti ini. Mungkin aku sudah terbang hingga tak pernah memijak ke bumi karena ke-angkuhanku, kesombonganku. Aku sadar saat aku SD kelas 6 aku begitu percaya diri hingga aku bermasalah dengan lingkungan dan ingin menang sendiri, aku menjadi orang yang egois dan memaksakan pendapatku agar orang lain menurutiku. Jika aku dibiarkan seperti itu tentu aku semakin menjadi-jadi, tapi Allah mendidikku untuk jatuh sejatuh-jatuhnya. Hal itu agar aku memijak, agar aku menghargai orang lain dan lebih banyak mendengarkan. Bukan berbicara terus tentang diri. Hal itu membuatku sampai sekarang sangat menyukai untuk mendengar cerita orang lain, dan aku sangat bersyukur untuk itu. Saat ini ada banyak mulut, tapi orang-orang tuli, semua orang ingin di dengar tapi tidak bisa mendengar –setidaknya mereka tidak mau-. Aku banyak belajar saat ini dari sikap ku itu sehingga aku lebih banyak memperhatikan daripada ingin diperhatikan. Aku tau bagaimana gerak-gerik semua perasaan yang orang lain rasakan. Benar, aku menjadi lebih peka dari lingkungan karena saat itu aku merasa harus diam.

Allah mendidikku untuk menjadi manusia yang tidak bisa bersandar pada yang lain selain Allah. Aku merasa bahwa Allah yang membuatku tetap bertahan dalam menjalani kehidupan. Aku masih ingat entah berapa kali aku berpamitan karena merasa akan mati pada temanku saat aku smp hingga temanku jenuh mendengarnya. Aku pernah menangis tergugu di kelas entah apa alasannya. Aku pernah merasa sakit perut setiap hari hingga terus menghirup minyak kayu putih, yang belakangan aku baru tau itu adalah respon tubuh terhadap rasa takut, cemas, dan khawatir. Takut untuk menjalani hari.  Semua itu ternyata benih yang Allah tanamkan, yang saat ini aku merasakan buahnya. Allah tidak pernah meninggalkan hambaNya.

Saat ini, mungkin aku merasa telah banyak belajar dan masih haus akan mata air ilmu. Mungkin di umur 25an, 30an bahkan 40an tahun aku mungkin akan di putar lagi dan merasa semua teorinya salah, entahlah. Belum dijalani. Hanya saja aku bersyukur akan semua hal yang aku “merasa” miliki saat ini. Aku bersyukur akan apa yang Allah berikan padaku. Aku baru sadar ketika aku mengatakan aku tidak ingin kembali ke masa lalu ternyata aku yang sekarang ini justru dari keseluruhan bentukan dari masa lalu. Benturan, tempaan, bantingan di masa lalu hingga aku mampu berdiri dengan bekas luka sana sini. Jika aku tidak mengalami semua itu, mungkin aku tidak sekuat ini. Namun jika aku disuruh untuk mengulangi masa lalu lagi, belum tentu aku bisa melewatinya kembali, karena semua itu dari Allah. Aku mampu menjalaninya adalah karena Allah. Aku bersyukur akan semua itu.

Saat ini seperti jam pasir yang dibalik. Disini, aku seperti memulai kembali. Membangun apa yang seharusnya aku bangun, dan memperbaiki apa yang seharusnya aku perbaiki. Aku berharap menjadi orang yang lebih baik saat menjalaninya. Aku berharap agar Allah menuntunku kembali ke jalannya untuk lebih dekat denganNya. Semua yang aku jalani, aku sangat berharap dengan caraNya. Aku mencintaiNya. Mari menyelam bersama.

Ponorogo, 4 Agustus 2019
Rizka Ulfiana, 22th
Masyarakat

Komentar