Bagaimana Bersikap



Hmm I don’t know. Masalah ukhwah ini sedikit membingungkan I think.

Kaya hm apa ya. Kamu harus pinter pinter gitu membangun sebuah hubungan. Nggak boleh terlalu dekat dan nggak bisa terlalu jauh juga karena nantinya jadi aneh. Jadi canggung dan karena terbiasa nggak ngomong jadi kerasa jauh banget. Ini yang aku alamin sama seseorang. Terbiasa diem-dieman jadi sampai saat ini kalau ada apa-apa cuma pakai bahasa isyarat doang. Saling sayang, saling perhatian tapi ngomong jarang, kalau gak kepepet nggak ngomong. Tapi kita nggak saling membenci, justru perasaan kita ini pakai hati banget. Kita melakukan tindakan nyata tapi pakai hati. Apalah.

Masalah berteman, aku kayaknya punya kecenderungan buat jadi toxic friends kalau dekeeeet banget. Aku jadi posesif dan gasuka kalau temenku lebih deket atau main boneka dengan yang lain. Yah setidaknya itu yang aku rasain ketika dulu masih jahiliyah. Perlahan aku mulai belajar, seiring dengan berjalannya waktu aku sadar bahwa dalam sebuah hubungan, apapun itu kita ini ibarat memegang tali. Dan sebaik-baiknya tali itu adalah tidak di pegang terlalu erat dan tidak dipegang terlalu renggang. Yang kuat akan menyakiti both of us dan yang renggang akan mudah terlepas, rapuh. Sebenarnya agamapun seperti itu. Kita harus pandai memilih kekuatan yang pas dalam memegangnya, agar tidak menyakiti ataupun terlepas. 

Balik lagi, karena keresahanku melihat fenomena sekarang ini, sebenarnya dalam hubungan, jadi posesif itu gaenak banget loh. Menyakiti yang posesif dan yang di posesifi. Pertama khawatir yang berlebihan kemudian disisi yang lain merasa terkekang. Mereka sama-sama terkekang. Hm. Hati-hatilah kalian karena virus ini ada ketika kalian merasa memiliki hak andil dalam sesuatu padahal sebenarnya juga gak ada. La wong diri ini aja kita nggak bisa mengendalikan kok karena kita ini kepunyaan Allah. La wong ngurusi diri aja nggak sanggup kok mencoba ngatur-ngatur orang lain. Gituh.

Perkara hubungan sebenarnya aku nggak terlalu suka terlalu dekat dengan seseorang, karena aku akan sangat mudah menyakiti. You know hati manusia itu gampang banget berbolak-balik dan semuanya itu ada masanya. Adakalanya ngerasa sayang banget tapi adakalnya pula benci banget. Gatau ya, karena percaya sehingga mudah kecewa. Manusiakan nggak ada yang sempurna dan otomatis berbuat kesalahan, nah karena saking deketnya itu tingkat mudah kecewanya itu jadi tinggi karena nggak sesuai dengan harapan misalnya. Ya begituloh, makanya aku akan menarik jarak kalau aku merasa terlalu dekat. Membangun tembok pembatas lagi sampai aku merasa “aman” di dalamnya. Selain itu juga aku negrasa tanpa sadar ya kalau hubugan yang flat aja itu nggak terlalu menantang jadi harus ada naik turunnya makanya kadang nggak sengaja bikin konflik yang nggak perlu. Konflik itu membuat spasi yang pada akhirnya membuat rindu itu tumbuh, sehingga pertemuan itu lebih dihargai. Eaaaa apalah bahasaku ini. 

Ya begitulah, itu sebabnya kali ya kenapa iman itu naik turun. Kadang menggebu-gebu kadang futur. Karena saat futur itu kita menyadari betapa sulitnya hidup tanpa hidayah, tanpa gelora mencintainya, sehingga ketika frekuensi lagi naik-naiknya itu merasa bersyukur banget dan takut sekali kehilangan frekuensi itu di dalam hidup karena tau betapa kosong dan hampanya hidup yang dijalani tanpa ada ghirah dalam beribadah kepada Allah. Itusih. Aku juga nggak terlalu paham ini itu nyambung atau nggak tapi ya begitulah menurutku, hubungan antara manusia maupun dengan Tuhan itu sama. Kita ingin dekat tapi tentu banyak yang harus dihadapi dan banyak dari diri yang harus diperbaiki untuk menghasilkan hubungan yang nggak renggang dan kalau bisa rekat dengan baik. Sekian dulu. Terimakasih

Ponorogo, 16 April 2019
Rizka Ulfiana, 21th

Komentar