Di dunia ini tidak ada hal yang kebetulan. Semua yang kita lakukan
ini benar-benar terukur. Setiap detik, menit, jam yang berlalu, semua yang kita
lakukan itu menjadi kerikil-kerikil yang akan sampai pada sebuah bangunan. Sesuatu
yang kita kira kecil ternyata akan sangat berdampak bagi hidup kita. Mulai dari
sekarang, perhatikan apa yang kita lakukan, karena kita tidak pernah tau amal
mana yang membawa kita ke surga. Ah, terlalu jauh ya? Baiklah, kita tidak
pernah tau amal mana yang membuat Allah sangat menyayangi kita. Saat Allah
menyayangi kita, maka dunia ini tidak apa-apanya.
Hari ini aku akan bahas tentang rezeki. Seperti intronya,
setiap apa yang kita perjuangkan itu pasti akan sampai pada sebuah muara dari
kerja keras kita. Mengapa? Karena Allah menyayangi hambaNya. Maksudku, suatu
pekerjaan yang kita anggap sia-sia, ternyata berdampak besar bagi hidup kita. Ketika
kita mengusahakan sesuatu tapi gagal atau nggak berhasil maka bukan berarti
perjuangan kita sia-sia, melainkan pasti ada proses belajar atau sesuatu yang
lain yang bermanfaat bagi kita. Saat Allah sayang, bukan berarti semua
keinginan kita di berikan, melainkan Allah menjauhkan kita pada sesuatu yang
bukan bagian kita karena bisa jadi kita nggak sanggup menanggungnya dan
memilihkan yang cocok untuk kita atau bahasa sederhananya, Allah memberikan apa
yang kita butuhkan. Cukup familiar kan ya?
Semua itu, bukan hanya kiasan kata-kata melainkan memang
benar begitu adanya. Jika kita mau berfikir ulang lagi terhadap “kegagalan-kegagalan”
dalam hidup kita, sebenarnya dibalik semua itu Allah menggantinya dengan yang
jauh lebih baik jika kita mau berfikir. Kita mungkin dihadapkan padahal yang
sama terus-menerus misalnya mungkin karena kita belum belajar juga. Contoh konkretnya
dalam diriku adalah ketika aku gagal untuk masuk ke jurusan kimia. Aku mencoba
di berbagai universitas negri manapun mulai dari jalur SNMPTN, SBMPTN, sampai
ujian tulis mandiri. Mulai dari malang hingga ke jogja, aku berangkat hanya
untuk melakukan tes agar ketrima di jurusan kimia. Aku gagal terus masuk sampai
berfikir apa aku ini gak bisa masuk kuliah ya? Kegagalan SNMPTN ku itu
kegagalan pertamaku di jurusan kimia sehingga saat SBMPTN aku memutuskan
pilihan ketiga iseng bukan kimia tapi teknologi pangan, tapi semua ujian tulis
mandiri aku pilih kimia semua. Sampai saat pengumuman ujian mandiri pun aku
gagal diterima di kimia, ajaibnya aku masuk di teknologi pangan. Bagaimana bisa
kok ajaib? Karena saat aku terpaku pada kimia tak ada pintu yang terbuka, tapi
begitu aku memalingkan muka kepada yang lain justru pintu itu terbuka sekali
coba. Bayangkan, berapa kali dalam hidup kita mengalami keajaiban seperti ini?
Saat kita menangis meratapi pintu yang tertutup dan merasa
gagal ternyata Allah membuka pintu lain yang jauh lebih lebar dan nyaman. Aku menjalani
teknologi pangan dan aku sangat bersyukur karena masuk di jurusan ini, bukan
kimia. Hehe. Saat di teknologi pangan sebenarnya banyak membahas tentang “kimia”
tapi dalam makanan. Dari sini aku tau betapa mungkin aku tidak sanggup menjalani
perkuliahan jurusan kimia karena merasa berat. Semua itu ada porsinya, dan
Allah benar-benar memikirkan tentang kesanggupan kita saat memberikannya
menurutku.
Melebihi semua itu, tentang passion, sekolah, pekerjaan,
mungkin kita harus bertanya kembali pada diriki kita sendiri. Sebenarnya,
esensi yang kita ambil dari “keinginan” kita itu apa. Tujuan dari kita
melakukan itu apa, atau katakanlah sesuatu yang lebih besar dari itu semua apa,
karena mungkin kita melakukan itu tapi dengan berbagai jalan. Misalnya, walaupun
aku nggak masuk jurusan kimia tapi aku tetap belajar kimia di teknologi pangan.
Ya semacam itu. Kita cari Goals kita itu apa, dan banyak jalan untuk mencapai
itu semua, begitu pula masalah rezeki.
Ponorogo, 7 Agustus
2019
Rizka Ulfiana, 22th.

Komentar
Posting Komentar
silahkan memberi kritik dan saran yang membangurn