Wahai teman-teman semua, percayalah bahwa sesuatu itu akan berakhir
juga. Jika kita terus menjalaninya entah seberat apapun dan setidak berdaya
apapun itu, skripsi misalnya, jika kita terus maju, maka itu akan berakhir juga.
Ini adalah tentang tidak menyerah meski lelah,karena sesungguhnya tak ada
kegagalan yang sejati, kita gagal itu saat kita berhenti berjuang.
Alhamdulillah, setelah menjalani
serangkaian 2 bulan kali ya ke Lab berangkat pagi pulang magrib, aku –akhirnya--
semhas juga, kemudian lanjut ke ujian lisan. Jujur saja ketika semhas itu
berasa seperti melahirkan -padahal juga belum tau rasanya-, kayak sesuatu yang
ditahan akhirnya keluar juga— oke, buang air besar-, jadi sangat lega, meskipun
banyak revisi sana sini, tapi sangat nikmat dijalani.
Sebenarnya setelah semhas itu
masih ada ujian lisan, tapi karena kelegaan yang luar biasa itu jadi saat lisan
aku tidak terlalu memikirkannya karena sudah ekstase dan jaraknya lumayan jauh
yaitu 1 bulan setengah.
Tibalah ujian lisan atau
komprehensif itu.Saat-saat penantian namaku di panggil itu aku harus menghadapi
kepanikan dan ketegangan teman-temanku yang bahkan tidak bisa menahan dirinya
untuk tidak sakit hati atas omongan dosen. Hm, mungkin semua itu juga dibangun
berdasarkan asumsi dan mindset kali
ya jadi saat di uji lisan merasa bahwa diri paling bodoh, paling tak berdaya,
sehingga dihina-hina harus diterima –kata teman-temanku-.
Saat tiba giliranku, aku hanya
berbekal Draft dan catatan, No
jurnal, No Log Book. Saat ditanya, aku merasa bisa menjawab –walaupun dosen merasa
itu bukan jawaban yang mereka inginkan- dan yang saat ada pertanyaan yang tidak
bisa ku jawab, aku hanya cengengesan. Oke senyum-senyum meminta ampunan. Yah,
dosen memaklumi kali ya, namanya juga mahasiswa. Aku mungkin nggak sadar juga
sedang dihujat karena ngeliat aku senyum mereka juga akhirnya nyindir dengan
senyum-senyum pula. Bahkan ada yang ngomong bahwa penelitianku itu tidak ada
gunanya –secara eksplisit tentunya- dan mengatakan “Yah, la sudah terlanjur
kayak gini ya gimana?”, aku hanya cengengesan – La memang sudah terlanjur juga
kok, kalau disuruh penelitian lagi, baru deh aku pucat pasi-.
Oke, hari itu aku menjadi orang
yang ramah sekali dengan terus menebar senyum agar suasana disana nggak
serem-serem amat. Apa dikit senyum, apa dikit ketawa. Kebayang gak kayak orang
gila. Yah yah gitulah, dan ketika teman-temanku berkata mereka merasa di bodoh-bodohkan,
dan mulai berfikir bahwa mereka manusia terbodoh di dunia, aku hanya berfikir
bahwa aku ini memang mahasiswa, jadi ya wajar kalau pertanyaan tinggi aku gak
tau.
Dihadapan orang-orang bergelar
Doktor semua, yang kuliah lagi kuliah lagi, bertahun-tahun untuk dapat gelar,
ya tentu nggak bisa dibandingkan, jadi pastilah tingkat ilmunya juga beda. Jadi
kalau aku nggak bisa jawab ya wajar jawab pakai cengengesan hehe. Begitulah cerita
ujian lisanku, hehe.
Ketika semua berkumpul dan
bercerita aku hanya mengatakan aku sama dengan kalian, ya karena memang sama. Hanya
saja, aku merasa bahwa Allah mengasihaniku jadi aku nggak merasa semua perasaan
ketegangan itu, dan aku bersyukur akan hal itu. Sekali lagi, bukan itu karena
aku, melainkan karena Allah yang menyayangi hamba-hambaNya.
Jika dipikir-pikir lagi, benar
juga apa yang pernah dikatakan oleh Ust. Salim Fillah, bahwa orang-orang
sama-sama berenang dan menyelam, ada yang menikmati dasar lautan dan ada yang
merasa tersiksa, karena satu memang ingin menyelam jadi mempersiapkan bekal,
dan yang lain tenggelam. Dalam hal ini aku nggak merasa bahwa aku lebih baik, sama sekali tidak, aku hanya mencoba untuk berfikir
dengan sudut pandang lain terlepas aku dan orang-orang yang mengikuti ujian
kompre, bahwa sesuatu itu bagaimanapun keadaannya, saat kita melihat dengan
kacamata cinta, itu akan ada hal yang indah juga ternyata. Dibalik ujian lisan
yang terkesan angker itu ternyata ada kelegaan yang luar biasa juga setelah
dijalani. Ternyata ya nggak se mematikan cerita orang kok, nggak se parah apa
yang bisa kita pikirkan. Maka dari itu ternyata lebih baik dijalani dulu baru
dinilai, karena ternyata juga pengalaman dan penafsiran orang tentang hal itu
juga beda-beda. Jangan sampai kita tersugesti dengan sesuatu yang toxic justru
bagi kita. Semua hal itu tergantung bagaimana kita menyikapinya. Yang penting
dijalani saja. Dijalani saja dulu, belum dijalani kok sudah khawatir. Dipersiapkan
sebaik mungkin dan jangan sampai merasa menjadi orang yang akan tenggelam,
siapa tau justru kita orang-orang yang menyelam, jadi menikmati
keindahan-keindahan itu. Ya gitu lah. Terimakasih.
bonus mv
Ponorogo, 3 Agustus
2019
Rizka Ulfiana, 22th.
Unoficcial mahasiswa


Komentar
Posting Komentar
silahkan memberi kritik dan saran yang membangurn