15.04.2018
Cinta. Apa itu cinta? Entahlah,
hingga saat ini aku belum menemukan definisi yang jelas tentang cinta kepada
seorang lelaki. Apakah aku benar-benar pernah merasakannya? Aku tidak tau. Barangkali
belum. Atau barangkali pula sudah untuk jatuh cinta namun belum untuk
mencintai.
Yang aku tau, aku merasa
membutuhkan cinta adalah saat-saat dimana aku sedang mencoba lari dari sebuah
tanggung jawab. Yang aku tau, aku mencoba untuk memikirkan hal lain untuk
mengalihkan perhatianku dari sesuatu yang harus kuhadapi di depan. Ketika aku
merasa begitu berat, ketika aku merasa ingin mengulur waktu untuk
menghadapinya, aku mulai mencari apa saja yang bisa kujadikan alasan untuk
mengalihkan fikiran, dan itu adalah cinta.
Aku benar-benar sadar, saat ini
prioritasku bukan cinta. Aku sadar begitu banyak hal yang harus aku hadapi,
yang harus aku fikirkan, dan begitu besar tanggung jawab maupun beban di
pundakku yang harus ku tanggung dan cinta merupakan nomor kesekian. Cinta adalah
sebuah perasaan remeh untukku saat ini. Bagiku, remaja yang ingin beranjak ke
usia dewasa, dengan sejuta mimpi, ambisi, ujian bahkan cobaan hidup, cinta
belumlah menjadi prioritas. Banyak mimpi yang harus ku kejar. Banyak dari
sifatku yang harus ku atur dan jinakkan sedemikian rupa yang aku rasa aku belum
mencapai versi terbaikku untuk bertemu sebuah cinta.
Jatuh cinta? Mungkin pernah. Entah,
bagaimana definisimu mengenai hal ini dan apakah yang aku rasakan bisa kau
kategorikan menjadi perasaan yang kau sebut “jatuh cinta”. Tertarik pada lawan
jenis adalah sebuah hal yang fitrah bagi seorang perempuan. Apalagi melihat
seseorang yang baik dimatanya, tentu muncul sebuah ketertarikan. Namun hanya
sebatas itu saja. Karena alasan klasik; belum mampu. Belum mampu untuk menjalin
sebuah komitmen. Belum mampu secara mental maupun finansial untuk menjalani
sebuah hubungan yang serius. Diri ini belum mampu. Namun itu lebih baik
daripada berpura-pura mampu. Itu sebabnya jika jatuh cinta melanda, yang aku
lakukan hanya let it flow. Biarkanlah mengalir saja, sebisa mungkin melakukan
hal-hal yang bermanfaat atau setidaknya tidak melakukan sesuatu yang akan aku
sesali.
Mencintai tentu berbeda dengan
jatuh cinta. Mencintai adalah komitmen. Komitmen untuk serius menuju ke
hubungan yang lebih serius. Komitmen adalah menikah. Insyaallah, suatu saat
nanti ketika telah dipertemukan dengan orang yang tepat dalam waktu yang tepat
dan keadaan yang tepat. Kelak, ketika semua hal telah tiba pada saatnya.
Namun aku sadar, di usiaku ini
perbuatan tak semulus tulisan. Perasaan tak selancar perkataan. Mungkin kita
memang diciptakan untuk tidak bisa langsung mahir dalam sesuatu. Kita butuh
berjuang. Aku juga butuh berjuang untuk membuat diriku semakin baik di mataku
dan di mata Allah SWT. Mungkin ditengah perjalanan-nya akan menemui kesulitan,
namun mungkin dari sebuah kesulitan itu bisa menjadi sesuatu yang menguatkan
langkah untuk sampai ke depan.
Aku sedang berbicara mengenai
cinta ataupun ketertarikan kepada lawan jenis. Kepada seorang laki-laki, yang
pada intinya adalah sebuah fitrah seorang maunisa. Namun ketika engkau menyebut
hanya cinta, begitu banyak cabang maupun versi untuk penafsirannya. Bisa cinta
kepada orang tua, saudara, kepada bumi, kepada angin, kepada ciptanNya,
rasulullah, dan yang tertinggi adalah sebuah cinta yang agung dari Tuhannya.
Jika hidup membutuhkan cinta,
maka akupun sedang merasakannya. Aku juga sedang berusaha mengejarnya. Kepada pemiliknya.
Kepada sumber dari sebuah cinta. Kepada matahari yang menerangi bumi. Kepada bulan
yang bersinar sebenderang itu di langit malam. ketika daun bambu yang hijau di
pucuknya terkena cahaya lampu yang menguning. Kepada langit malam dengan
semburat merah bekas senja. Kepada pelangi di atas terik sana setelah hujan
reda. Aku jatuh cinta. Setiap hari jatuh cinta kepada cinta yang seagung itu,
kepada cinta yang sebesar itu. Kepada yang menciptakan setiap hal dan yang
membuat semua hal terwujud untuk setiap hari aku rasakan. Ya Tuhan, aku jatuh
cinta. Karena harapanku suatu saat Engkau juga akan memberikan cinta pula.
Surabaya, Minggu 15 April 2018
Rizka Ulfiana, 20 th
Mahasiswa selesai sidang
PKL belum revisi.

Komentar
Posting Komentar
silahkan memberi kritik dan saran yang membangurn