Seni Mendengar



3 April 2018

Dalam memahami sesuatu, kita perlu banyak belajar. Pelajaran-pelajaran yang tidak dapat kita dapat dari materi-materi yang diadakan di tempat formal. Apa yang di dapat dari mendengarkan orang lain itu jauh lebih banyak, jauh lebih tak terduga dari apa yang bisa kita bayangkan.

Mengembaralah, agar engkau tau berbagai macam sudut pandang dari berbagai latar belakang kehidupan yang mereka jalani.bahwa kehidupan yang tidak pernah kita bayangkan itu ada, dekat, bahkan di depan kita. Namun jika kita terus menutup diri tanpa mau memandang apa saja yang ada dalam hidup mungkin selamanya kita hanya akan berputar pada lingkup lingkaran yang hanya seperti itu saja. Jenuh? Mungkin. Namun tidak juga bagi yang menikmatinya. Zona nyaman katanya. Ah entah. Kita tak bisa memaksa orang lain untuk berubah.

Memperbaiki nasib adalah kata-kata yang sering kita gelorakan pada mereka, namun bagaimana jika ternyata mereka sangat mensyukuri keadaannya? Bukankah setiap orang memiliki definisi tertentu pada suatu yang tidak pasti sama? Atau jangan-jangan diri kita ini lah yang kurang mensyukuri setiap kenikmatan yang Tuhan berikan? Ah entah. Aku juga tak tau.

Begitu banyaknya sudut pandang terhadap kehidupan kita. Begitu sempitnya arah fikiran yang coba kita luruskan. Semakin banyak kita mendengar, semakin kita tau bahwa kita ini bukanlah apa-apa. Namun engkau juga harus memiliki prinsip hidup yang dipegang erat, karena tak semua hal yang dianggap benar dan dianggap salah merupakan bentuk absolut. Kita harus memilah-milah mana yang menjadi pegangan hidup sebelum pada akhirnya kita gunakan untuk menjalaninya.

Mendengar bukanlah perkara mudah, namun bukan perkara susah pula. Hanya membutuhkan keikhlasan untuk mau belajar. Untuk mau berkompromi terhadap besarnya ego yang menghinggapi diri untuk berbicara tanpa henti.

Mendengar adalah seni. Seni kehidupan yang tak bisa berhenti sebelum bisa memaknai, karena mendengar adalah sebuah kondisi dimana nurani mampu terbanting dan kembali untuk mencari kebenaran hakiki.


Surabaya, 3 April 2018

Rizka Ulfiana, 20th

Komentar