08.05.2018
Ada banyak hal di dalam hidup
yang tak bisa dijelaskan. Ada begitu banyak perasaan yang menyelimuti hati
untuk diredam. Bahwa aku ingin pindah, bahwa aku ingin marah, bahwa aku juga
kecewa. Percayalah ketika engkau merasa begitu berat untuk menghadapiku, ini
juga tidak mudah untukku. Mungkin hanya melihat dari sudut pandang berdirimu dan
kau ceritakan pada orang lain hingga mereka terheran-heran pada sifat burukku. Namun
percayalah, berdamai dengan diriku sendiri untuk meredam segala hal buruk dariku
bukanlah sesuatu yang mudah ku hadapi, begitu pula harus berdamai dengan
kalian.
Kita berjalan begitu jauh. Begitu
dekat, begitu saling menyakiti. Engkau tak pernah menyertakan aku dalam rencana
hidupmu, mungkin karena engkau takut, mungkin pula karena memang tak mau. Aku
tidak menyalahkanmu. Kita telah sejauh ini bersua dalam langkah sehingga asam
pahit kehidupan membuat kita semakin beringas, semakin mencoba untuk sendiri
satu sama lain. Tidak tergantung sama sekali yang justru semakin menyakiti. Perasaan
tidak membutuhkan satu sama lain. Engkau begitu dan aku begini, kita terlalu
tua untuk merubah prinsip kita dan tak mau mengalah untuk menjadi menyedihkan
agar kasihan.
Langkah demi langkah ketika dulu
masih muda dan memperbaiki segala hal. Perasaan marah, kecewa, dan tak memahami
hingga terlalu bertoleransi saat ini membuat hal ini terasa tak lagi peduli. Bertahan
bukanlah sebuah hal yang mudah. Aku tidak mau mengikatkan diriku pada dunia dan
engkau tau betapa aku sangat ingin patuh pada apapun takdir Tuhanku tentang
hidupku. Kita membunuhi waktu bersama-sama untuk tumbuh bersama, jikalau harus
berpisah maka itu adalah sebuah takdir yang tak dapat ditolak.
Pertemanan bukanlah sebuah
hubungan yang sederhana, karena jika mengikat hanya akan menyakiti dan jika
begitu kendor akan saling menjauhi. Mungkin saat ini kita telah mengalami “kekendoran”
itu hingga kita telah sibuk pada dunia masing-masing dan menemukan
sahabat-sahabat baru untuk berdiskusi. Kita tak lagi tertarik pada kegitan
masing-masing karena kita telah memiliki dunia yang menarik yang sama sekali
tidak bersimpangan jalan satu sama lain. Lingkaran pertemanan kita juga berubah
meski ada hal-hal yang membuat kita bertemu, namun tetap saja kita memiliki karib
yang berbeda.
Apa yang salah sebenarnya?
Komunikasi menjadi begitu buruk saat kita memutuskan untuk lari dan menyibukkan
diri. Engkau tak pernah bertanya dan aku tak pernah menjawabnya. Engkau pakewuh
kepadaku dan aku tak peduli jika kau tak mau melawan dirimu sendiri. Kita hanya
orang-orang yang menghabiskan masa hingga tiba pada saatnya.
Kita orang-orang yang ingin
menjadi baik yang pada akhirnya meredam semua amarah karena tak ingin menyakiti
orang lain. Pada akhirnya kita tak mampu berdamai pada diri sendiri dan
mengorangkan orang lain. Tak ada keluhan, tak ada cacian. Kita telah datang
dengan perasaan yang baik semoga kelak juga pergi dengan perasaan yang baik
pula karena kita telah sama-sama dewasa untuk mengetahui mana yang baik dan
mana yang buruk meski menurut versi kita masing-masing sebagai manusia.
Surabaya, 8 Mei 2018
Rizka Ulfiana, 21 th
Kosan Lengang

Komentar
Posting Komentar
silahkan memberi kritik dan saran yang membangurn