Badai Kehidupan



Banyak hal dalam membangun hubungan entah itu pada teman maupun keluarga, yang semuanya itu butuh effort. Point penting dari semua itu adalah memaklumi. Memaklumi membuat kita mampu untuk bersikap baik. Huznudzon dalam semua hal. Sebenarnya kita tidak tau badai apa yang melandanya, apa yang harus ia hadapi di luar sana sehingga tampak seperti itu. Kita hanya menerima produk akhir atau akibat yang ia tunjukkan setelah menghadapi badai, maka jangan berburuk sangka dan menambah badai lagi serta menuntut untuk orang lain bersikap baik kepada kita, tersenyum atau terlihat ceria. 

Aku tau kadang berada di posisi “orang yang terkena badai” itu serba salah, hati hancur lebur masih harus terlihat ceria dan bahagia seolah tak ada yang terjadi untuk menjaga perasaan orang lain agar tak merasa tak enak ketika berada di dekatku. Tapi disisi lain aku juga harus paham bahwa orang lain itu juga tak bersalah apa-apa sampai aku harus “berwajah masam” akibat masalah yang menimpaku. Hm, serba salah juga sebenarnya. 

Kadang menunjukkan mood apa adanya itu melegakan juga, tak perlu berusaha terlalu keras untuk tampak ceria, tampak semangat menggebu-gebu, yaah orang yang mau menerima ini tak banyak tapi tidak mustahil juga. Kadang pula walaupun remuk di dalam tapi dengan bersikap baik dan tersenyum juga menjadi healing proses juga untuk mengikhlaskan kenyataan pahit diluar sana. Ya intinya ada kalanya kita berusaha terlalu keras untuk terlihat baik-baik saja tapi pada akhirnya semakin sakit dan kosong, adakalnya kita bersikap baik-baik saja yang pada akhirnya kita menjadi benar-benar baik-baik saja.

Intinya, untuk orang yang menghadapi orang yang terkena “badai”, jangan menuntut apapun pada orang lain. Maklumi saja, terima saja. Ada hal-hal yang kadang memang tak berlaku atau berjalan sesuai dengan keinginan kita, dan manusia itu complex luar biasa, jadi tetap bersikap baik. Tetap bersikap bahwa sebenarnya orang-orang ini butuh pundak untuk bersandar hanya saja mungkin ia belum percaya kepada orang lain dan jangan menuntut agar ia percaya kepada kalian karena itu masalah rasa, masalah hati. Tapi jika saatnya mereka mau membagi perasaannya, jadilah pendengar yang baik tanpa mengkritik dan menggurui. Jika ia meminta solusi baru coba katakan solusi paling netral dan objektif. Ya begitulah pokoknya.

Husnudzon itu penting, dan itu membuat kita tetap waras. Sekali lagi, terima saja dan maklumi. 

Bagi orang-orang yang pernah atau sedang terkena badai, bersedih, marah, atau kecewa itu boleh, tapi jangan berlebihan. Semua perasaan itu membuat kita kaya akan rasa dan pada akhirnya menuntut kita untuk memahami orang lain yang berada di posisi yang sama atau justru yang lebih hancur lebur. Jangan tumpahkan semua amarahmu kepada orang-orang yang tidak tau apa-apa dan tidak mengerti. Jangan mengorbankan perasaan orang lain untuk membuang amarahmu atau menanggung kecewamu, karena pada akhirnya engkau akan menyadari dan menyesali apa yang seharusnya tidak kau lakukan pada orang lain yang kau sendiri juga sebenarnya tidak suka jika orang lain memperlakukanmu seperti itu. Serta jangan menuntut untuk dimaklumi, karena kita juga tidak tau seberapa dalam badai yang orang lain hadapi pula dan ia tampak begitu biasa saja dan bahagia-bahagia saja. Kita tidak tau apa saja yang mereka alami dan jangan merasa engkau yang paling menderita sehingga semua orang harus memahami dan memaklumi. Ada banyak, bahkan ribuan orang yang menghadapi badai dan mereka berusaha tampak tidak habis menghadapi badai karena terlatih untuk mengendalikan emosi mereka. Jadi ya gitu lah. Sekian.

Surabaya, 24 Maret 2019
RU,21th.

Komentar