Konsep Rezeki


Hatiku tenang, karena apa yang melewatiku bukanlah takdirku dan apa yang menjadi takdirku tidak akan melewatiku.- Umar



Aku tau kadang saat lagi futur-futur nya ketika mendengar kabar bahagia semestinya dari orang lain seharusnya ikut bahagia, bukan ingin mendapat rezeki yang sama. Tapi hati manusia mudah tergoda dan cobaan itu ada untuk menguji seberapa “jauh” manusia mampu merasakan dan mengendalikan hatinya.

Aku merasa akhir-akhir ini sering dicoba dan perasaan iri dan dengki ku mulai muncul saat-saat kebaikan meliputi orang-orang disekitarku. Hati lantas berkata “wah, enak kali ya…..” kemudian badmood begitu saja. Lalu tersadar wah sepertinya aku sedang diuji, dan menguatkan niat untuk tidak goyah dalam memegang nilai-nilai kebaikan, untuk tidak menginginkan apa yang belum dimiliki. 


Mungkin Allah memberi amanah rezeki kepada mereka yang mampu menaggungnya. Aku tau bahwa Allah sangat mengenalku dan mengetahui kemampuanku, maka jika saat ini aku belum diberi amanah atau rezki seperti itu artinya aku belum mampu dan pasti diganti dengan pekara yang aku lebih mampu.

Iya, aku paham itu, hanya saja aku tiba-tiba merasa bersalah karena sempat terfikir bahwa mungkin Allah sudah memberiku kesempatan namun aku menolaknya. Jangan-jangan dulu aku menyia-nyiakan kesempatanku sehingga terfikir untuk amanah kecil saja aku tidak mampu apalagi yang lain. Hmm


Aku percaya pada Allah, aku menguatkan hati bahwa aAllah tau yang terbaik untukku. Aku tau bahwa apa yang terjadi padaku adalah atas kehendak Allah dan aku yakin, benar-benar yakin bahwa Allah yang paling tau dan memahamiku.


Kemudian dalam waktu antara magrib dan isya’ku, aku berfikir bahwa apa yang Allah beri kepadaku ini nikmat yang terlalu luar biasa. Emang kamu mau menukar semua hal yang ada dinuia ini dengan nikmat yang saat ini kau rasakan? Kau mau harta mengalir di rumahmu tapi ditukar dengan nikmat manisnya keimanan ? kau mau menukar kecantikan, jabatan tinggi dan hal-hal materil lainnya yang tak bisa dibawa mati itu dengan rasa cintamu kepada Allah? Rasa cinta yang membuatmu menangis sampai dalam hati karena bersyukur merasakan kehangatan hati saat menyebut namaNya? Kau punya “segalanya” tapi hatimu hampa karena Tuhanmu meninggalkanmu? Tentu tidak. BIG NO. 


Apa yang aku rasakan ini, aku sangat takut sekali jika aku tidak mampu merasakannya lagi. Aku takut mati dalam keadaan jauh dari Allah. Aku takut jika suatu hari nanti aku berbuat dosa dan Allah murka padaku dan mengabaikanku. Aku tidak mengharap syahid ataupun khusnul khotimah. Tentu aku mau itu, tapi siapalah aku memangnya? Aku hanya berharap saat aku dipanggil aku dalam keadaan aku sangat mencintaiNya dan Dia ridho padaku. Itu saja.


Maka konsep rezeki ini benar-benar menyadarkanku apa itu rezeki yang sesungguhnya. Rezeki itu nggak melulu materi, tapi iman dan perasaan itu juga rezeki. Kebahagiaan, ketentraman, kesehatan, kebaikan dan kesadaran, kedewasaan berfikir itu juga rezeki yang nggak semua orang mampu untuk melihatnya. Kedamaian hati dan nikmat iman, nikmat percaya dan mencintaiNya itu lebih aku harapkan dari dunia dan seisinya. Aku tau aku akan mati, materi dan dunia nggak memberikan aku apapun, dan aku nggak mau melakukan sesuatu yang aku nggak membawanya ke akhirat, gitu. Sesuatu yang kalau aku mati, yasudah itu selesai gitu lo, enggak. Aku nggak mau. Maka dari itu yasudah, aku sadar bahwa ketika orang lain mendapat rezeki dalam hal “keduniaan” misalnya, aku akan bilang “I’m happy for you” dengan tulus tanpa ada perasaan “ih, enak kali ya gitu” karena aku paham bahwa Allah lebih tau dan paham apa yang terbaik bagi hambaNya. Begitu pula pada orang yang mendapat rezeki dalam “akhirat”, aku juga akan bilang “alhamdulillah, dan ajari aku dong” ya gitu deh pokoknya. Intinya mari menabung akhirat sebaik-baiknya.



Surabaya, 28 maret 2019
RU, 21th

Komentar