Masalah Itu



Masalah itu
Mari menulis
I have to deal with a lots of feeling. Hari ini aku merasa begitu kosong, apa ya semacam perasaan ketika mengalami masa jatah bulanan wanita. Aku berfikir bahwa rasanya hampa aja gitu, aku merasa bermasalah dan penyakit di dalam hatiku seperti kambuh lagi seperti sedih tapi tidak tau ini tentang apa. Aku tidak bisa dibilang sedih sih, hanya merasa bahwa apa yang aku lakukan seakan tidak menemui titik temu dan aku merasa ada space gitu antara setiap masalah. Kayak titik temu yang tabrakan dan udah hening gitu aja. 

Aku merasa hidup itu sebenarnya kenapa sih aku ngoyo banget, penelitian di bela-belain buat segera selesai, kadar abu 2 minggu nggak selesai-selai malah jamuran, aku hanya mempertanyakan kenapa aku peduli dan ngoyo banget gitu sama semua itu. Aku merasa bahwa hidup itu nggak melulu soal itu gitu. Aku merasa pencapaian sana dan sini yang dilakukan oleh orang lain terlihat menyenangkan, ah nggak juga sih aku nggak membandingkan juga. Apa ya? Kayak merasa aku tau nih aku sedang diuji lewat perasaan kayak gini dan aku tau bahwa Allah sedang melihat bagaimana aku bisa berdamai dengan perasaan seperti ini. Gitu. Hmm

Aku berjalan dari jalanan menuju parkiran kayak banyak gitu yang aku fikirkan tapi hasilnya kayak kekosongan gitu. Semakin sore, semakin larut. Saat mandi berfikir bahwa Allah itu baik banget sama aku, Allah itu sayang banget sama aku, ini kalau nggak dikenalin ke Allah gimana nasib aku ya? Mungkin aku akan “mati” udah dari dulu gitu, I mean bukan mati yang beneran mati gitu tapi hidup tanpa ngerasain ketenangan dan kebahagiaan yang pada akhirnya aku akan merusak hidup aku dengan hal-hal yang ga penting hanya untuk menutupi kekosongan dalam hati aku, yang aku yakin manusia nggak akan bisa.

Aku merasa bahwa Allah itu sayang banget sama hamba-hambaNya, Dia tidak pernah meninggalkan hambaNya. Maksudku kayak aku nih misalnya, aku tau gimana sifatku, apa aja yang udah aku lakuin dan gimana busuknya fikiranku sometimes, tapi Allah selalu menolong aku gitu, nggak pernah meninggalkan aku disaat terburuk maupun terbahagiaku. Aku bersyukur banget, bisa diizinkan untuk mengenal Allah. Aku mikir gimana kalau aku dikenalin sama agama lain yang jauh dari Allah misalnya apakah aku juga akan mendapat kedamaian seperti ini? Jawabannya adalah mungkin iya mungkin tidak, sekalipun iya, itu bukan kedamaian sejati gitu lo, kayak aku tau nih ada kekuatan yang lebih besar disana tapi aku nggak tau itu siapa karena emang otak manusia nggak sampai untuk menemukan Allah yang seperti islam ini. Gitu temen-temen.

Kemudian aku nonton videonya gita yang episode menghadapi titik terendah, aku kayak merasa up lagi gitu. Yang aku mau omongin soal ini adalah pertama aku berfikir ternyata bikin konten kayak gini bermanfaat ya bagi orang lain kayak aku misalnya, menambah semangat dan sudut pandang baru gitu atau sekedar mengingatkan teori yang sebenarnya kita udah tau nih, tapi karena posisi lagi down jadi hilang semua gitu dan videonya itu ngingetin lagi. Jadi hal yang seperti ini yang kadang  orang menganggap sepele ternyata berarti besar bagi orang lain. Gitu.

Kedua, ada banyak sisi yang aku sama kayak gita dan paul, perasaan kayak iya dulu aku suka banget perasaan patah hati, bukan patah hati juga sih tapi kayak sedih gitu, suka banget ngerasain itu bahkan sampai aku nikmati dan aku larut dalam perasaan itu, aku juga sampai di keadaan aku mati rasa terhadap apapun, makanya waktu aku inget itu dan lihat diriku sekarang itu kayak aneh aja gitu. Aku sekarang itu lebih perasa, sensitif dan peka terhadap lingkungan sekitarku dan mudah luluh, meskipn tetap ada kerasnya sih. Tapi aku merasa rapuh banget dan nggak “kuat” kayak dulu. Ada positiif dan negatif nya juga sih sebenarnya, dan aku kayak serakah gitu pengen ambil postifnya aja dari rizka yang dulu dan rizka yang sekarang. Menurutku itu masalah manajemen kita ngeswitch kapan harus jadi emosional dan kapan harus mati rasa dan aku paham betul bahwa manusia tidak berkuasa atas hal ini. Hanya Allah yang bisa membolak-balikan hati manusia. 

Ketiga, aku juga merasa bahwa menangis itu tetep perlu sih, dulu waktu aku masih mati rasa aku entah bagaimana caranya pokoknya aku harus nangis gitu entah dinangis-nangisin atau karena nangis beneran dengan liat film atau denger lagu, pokoknya nangis. Karena emang lega banget gitu semacam perasaan membasuh hati dan nggak mengeraskan hati terlalu keras, apa ya, melembutkan hati lah. Sekarang ada hal menyentuh sedikit aja aku udah berkca-kaca karena “saking lembutnya” terlalu lembut malah hmmm balik lagi, terlalu perasa dan terlalu sensitif tapi aku suka kadang gasuka. Yasudahlah. 

Apa lagi ya? Ya itu sih, aku suka sama kontennya jadi aku bisa inget lagi dulu aku bisa kuat itu gimana, itu semua karena rahmat Allah dan bukan atasa dasar kita bisa kayak gitu tapi karena Allah yang membuat kita kuat seperti itu dan berfikir bahwa Allah itu sayang banget sama hambaNya, masa iya aku lelah dengan semua hal yang harus kuhadapi ini. Ini nggak ada apa-apanya gitu. Di umur 21 tahun yang mendekati 22 ini aku benar-benar merasa begitu kecil dan lemah. Merasa ditubruk tubruk sama masalah yang ada dalam diriku sendiri maupun masalah dari luar seperti akademis, ekonomi dan lain sebagainya. Benar-benar titik balik kehidupan yang alhamdulillah Allah membersamai langkahku. Sudah sih, segitu saja dulu. Terimakasih.
Surabaya, 14 Maret 2019
Rizka Ulfiana, 21th
Mahasiwa skripsi
mengabukan flakes
kadar abu

Komentar