Waktu untuk Bersyukur



Adakalanya waktu itu seperti sebuah roda yang terus menerus berputar. Kadang diatas kadang dibawah. Tau nggak kalau sebenarnya kita ini, atau aku ini selalu diberi kesempatan. Diantara waktu lenggang dan waktu sibukku, Allah selalu memberiku kesempatan untuk merenungi juga mensyukuri waktu apapun yang aku dapatkan. Waktu senggangku baru terasa berharga ketika aku sibuk banget ngelab dulu misalnya karena harus berangkat jam 6 dan pulang hampir magrib. Masyaallah capek luar biasa dan aku rindu waktu leyeh-leyeh di kosan. Saat ini ketika udah selesai ngelab, saat leyeh-leyeh di kos, waktu senggang yang aku nikmati ini aku merasa begitu nyaman yang kadang justru terlalu nyaman sampai akhirnya nggak suka lagi kalau terlalu nganggur. Aku ingin sibuk, tapi gatau sibuk apa. Kalau disuruh ngelab lagi ya gak mau, tapi butuh kegiatan. 

Hm entahlah. Aku bingung. Terus bergulat dengan waktu. Saat ini aku merasa banyaknya waktu senggangku mungkin juga harus dibayar dengan waktu sibuk lagi kedepan. Entah perkara pekerjaan ataupun sekolah lagi. Sama seperti waktu luang dari lulus sma ke kuliah. 
Sebenarnya waktu senggang seperti ini itu melenakan banget, kadang malah bikin futur. Kayak merasa apa yang udah aku lakuin selama ini ya? Waktuku itu habis untuk apa ya? Umurku ini aku gunain untuk apa aja? Kontribusi apa yang udah aku lakukan? Hm entahlah sepertinya amal tidak pernah cukup dan begitu jauh untuk mencapai sempurna. Aku merasa kehilangan semangat untuk melakukan sesuatu dan mencari-cari purpose ku. Aku jadi mikir gimana orang yang ga punya agama ya menjalani hidup? Gak tau apa tujuan hidupnya, gatau gimana nanti dan mau dibawa kemana kehidupan yang ia lakukan itu. Hm aku tau purpose hidupku. Aku tau bahwa aku ini milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Aku tau bahwa aku ini hidup dan mati adalah untuk Allah. Hanya saja aku tidak tau, bagaimana caranya? Bagaimana jalannya untuk menuju keridhoan Allah itu? Apa yang harus kulakukan? Dan bagaimana aku memulainya? Aku ngestuck disitu. Saat-saat di zona nyaman itu dimana hanya ada nganggur dan nganggur itu aku justru bingung apa yang bisa kulakukan. Aku bingung apa yang harus aku lakukan agar bisa sampai di tujuan akhir ku itu agar membawa impact atau pengaruh dalam mencapai tujuan itu. 
Entahlah aku bingung. Aku berfikir begitu keras sampai aku menemui titik temu. Aku berfikir kayak gini ini, mikir kontribusi, mikir gak ada apa-apanya, gak ada pencapaian, jangan-jangan aku sedang tidak bersyukur dengan kehidupanku ini? 
Jangan-jangan aku tidak melihat dari sudut pandang apa saja yang Allah telah berikan kepadaku dan aku manfaatkan sebaik mungkin dan berterimakasih pada Allah.  Jangan-jangan aku sedang mengeluh tentang takdirku. 
Aku begitu memikirkan hal ini dan berfikir lagi mungkin selama ini aku bersyukur. Allah udah begitu baik banget sama aku, Allah bahkan menghadiahiku waktu luang setelah kerja bagai kuda saat nge-lab kemarin dan aku mengeluh ini itu minta sibuk. Hm, difikir-fikir kok aku nggak tau diri banget ya. Aku kok nggak memikirkan gitu sama nikmat disekelilingku bahwa sebenarnya aku bisa melakukan apa saja untuk dianggap “berkontribusi” oleh diriku sendiri dengan melakukan hal-hal kecil seperti bersedekah misalnya. Ngasih orang makan. Bersihin kos dan hal-hal yang aku remehkan untuk dilakukan sedangkan mungkin itu sebuah bentuk “kontribusi” besar bagi Allah mungkin. 
Hal-hal besar misalnya bekerja jadi volunter di luar negeri, di palestine atau hal-hal besar lainnya mungkin memang tidak ditakdirkan untuk sebagian orang karena takdirnya menginginkan dia untuk berbuat hal lain yang sesuai dengan kapasitasnya. Sesuai dengan kemampuannya dan hal-hal yang sangat dibutuhkan untuk dilakukan. Hal-hal kecil yang diberikan ke kita itu justru mungkin itu sebuah kesempatan untuk membuktikan bahwa kita layak untuk diberi kesempatan yang besar karena sudah mampu menyelesaikan hal yang kecil itu. Begitulah. Jadi bersyukur saja dengan kesempatan yang Allah berikan entah itu kecil atau besar. Entah itu waktu sibuk ataupun waktu senggang. Dinikmati saja karena hal itu benar-benar nikmat Allah yang mungkin akan begitu dirindukan, di idam-idamkan. Waktu yang mungkin akan disyukuri sepenuh hati karena pernah terlewati. Intinya bersyukur pada semua waktu yang Allah berikan, karena Allah tau yang terbaik bagi hambaNya. Allah benar-benar yang Maha mengerti apa yang dibutuhkan hambaNya. Alhamdulillah.

Surabaya, 16 Mei 2019
Rizka ulfiana, 22th

Komentar